PEMUDA TAK PANTAS
Aku malu, menjadi pemuda yang hanya berkata tanpa
bergerak. Berpacu pada berbagai macam teori tanpa tahu apa kegunaannya. Berubah
menjadi sosok pahlawan hanya untuk pujian. Menggenggam tangan dan memukulkan ke
dada hanya untuk menunjukkan kekuatan.
Aku malu, mengajak kerabatku pada perubahan. Mengajak
kawanku pada kebaikan. Tapi aku hanya diam di tempat tanpa melakukan pergerakan.
Negeriku memang sedang membutuhkanku. Membutuhkan kita. Membutuhkan pemuda.
Namun bukan yang seperti aku, seperti kita, seperti perilakuku, seperti
perilaku kita. Hanya diam pada genjatan dan bangga dengan hedon yang membuat
manusianya semakin melarat. Menjauhkan manusia pada kerja sama, sekali kerja
sama diartikan mencontek. Individualis!
Aku malu, menjadi pemuda yang ingin membuat kedamaian
namun yang terpikir hanya kedamaian untuk diri sendiri dan golongan.
Merendahkan martabat orang lain layaknya penguasa semesta. Mengatakan semua
adalah salah kecuali dirinya dan golongannya.
Aku malu, menjadi pemuda melek yang tak pernah menggubris
orang tua kepayahan. Bahkan menuli saat mereka meminta tolong. Bodohnya, mataku
selalu jeli mengamati lantas tertawa saat mereka tiba-tiba tersandung dan
jatuh. Mengatai dengan mulut binatang. Tak pantas aku disebut pemuda. Sebegitu
buruknya ternyata aku. Sebusuk itu ternyata akal dan nuraniku.
Aku malu, menjadi pemuda terpelajar jika hanya mau
belajar saat ujian. Malu! Malu juga ketika aku masih saja belum mampu berkaca
pada satu peristiwa. Sampai sedewasa ini. Tak pantas bagi pemuda, apalagi ia terpelajar hanya
memandang sebelah mata tanpa peduli cerita apa di baliknya. Buruknya, ketika
semua berakhir dalam cacian.
Aku malu menjadi pemuda hari ini.
Tahukah kalian, tulisan di atas adalah suatu gebrakan baru kita untuk kembali mengingat betapa pemuda sangat amat penting. Namun sayangnya etika kita apapun tentang kita belum sepenuhnya menunjukkan bahwa kita adalah pemuda yang baik.
Selamat Hari Sumpah
Pemuda.
Sumpahmu Dinantikan
Negerimu!