Selasa, 08 Desember 2020

Selamat Ulang Tahun!


Teruntuk diriku sendiri, s
elamat ulang tahun ke-20.

Kata selamat tak cukup sesuai sebenarnya. Sebab, raut mukamu terlihat lebih kusut hari ini, sejalan dengan isi kepalamu yang mondar-mandir tak karuan. Perasaanmu was-was, cemas, seakan hari esok semua akan berakhir. Pikiranmu melambung jauh tak terkendali. Rasanya seperti diberi pilihan jawaban “tersiksa” atau “mati hari ini saja”. Tak ada yang bisa memilih mati meskipun tak tahu alasan apa yang membuatmu bertahan. Tapi, tersiksa juga sesuatu yang mengerikan, bukan?

Rasanya angka 20 tidak benar-benar menjabarkan siapa aku hari ini. Terlalu tua untuk bersuka ria, namun anak muda mana yang menempatkan angka 2 di muka umurnya. Tak ada pencapaian yang benar-benar bisa kubanggakan selain masih bisa menulis ini untuk diriku sendiri. Tak ada yang benar-benar bisa kubanggakan. Tak ada.

Stop! Mari kita mengulang apa saja yang sudah kamu lalui satu tahun ini. Memang bahagianya tidak bisa dibandingkan dengan ulang tahunmu tahun lalu. Tapi, ikuti aku. Aku yakin setelah ini kamu akan bangga dengan dirimu.

Ulang tahunmu tahun lalu terkesan romantis dengan Surabaya dan juga orang-orangnya. Kamu tertawa, menahan air mata karena sangking senangnya. Di bulan setelahnya kamu masih bisa merasakannya sampai akhirnya kamu bertemu satu titik yang tak pernah kamu sangka sebelumnya. Kamu kehilangan seseorang yang masuk dalam list orang tersayang. Ini menyakitkan. Di tengah riuhnya masa belajarmu, kamu ditimpuk keras sebuah kehilangan.

Kamu sempat bilang hari itu bahwa kamu akan berhenti. Kamu ingin berdiri di tempat karena kamu takut akan terjadi dua kali. Kamu berusaha mengubur isi kepalamu dan menutup rapat sekali. Untungnya, kamu berubah pikiran. Karena kamu tahu jika kamu benar melakukan akan semakin banyak yang kamu kecewakan.

Hari itu kamu berusaha berdiri meskipun dengan tangis setiap hari. Kamu selalu tampak menyedihkan namun tak mau dikasihani. Kamu membangun dirimu kembali. Kamu terlihat utuh meskipun sebenarnya mati-matian menahan diri.

Sampai di sini, apa kamu sudah mulai ingin berterima kasih untuk dirimu sendiri?

Hei, selamat ulang tahun.
Terima kasih sudah mau memaafkan meski kamu sering keterlaluan.
Terima kasih sudah tumbuh menjadi versi terbaikmu.
Terima kasih sudah mau belajar dari egois dan amarahmu.
Terima kasih karena kemandirianmu yang berpijak dengan tangan dan kakimu.
Kamu hebat sudah ada di titik ini.
Ingat, tidak ada yang perlu disesali apalagi jika masih bisa diperbaiki. Hidup ini adalah perencanaan dan perjalanan. Rencanamu bisa rusak kapan saja. Perjalananmu bisa gagal saja. Tapi, kamu masih bisa memperbaiki rencanamu. Kamu masih bisa mengganti hari perjalananmu. Tetap tumbuh menjadi Amal versi Amal.

Selesai di tulis di Kediri, 09 Desember 2020 0.50 WIB
Terima kasih sudah mau bertahan meski yang kamu rasakan menyakitkan.