Selasa, 07 November 2017

SEMBURAT HATI #3: HAI PEREMPUANKU


Hai perempuan yang aku sayangi...
Sejak pertama menemukanmu dalam bola mata ini, aku tak pernah bisa berhenti untuk tetap menatapmu. Mataku tak sanggup beralih bahkan kepada sekumtum mawar merah merekah di dekatmu. Kamu terlihat lebih indah dari padanya.
Hai perempuan yang indah menawan...
Bisakah kau sebut namamu? Agar aku tak lagi menyebutmu dengan julukan cantik jelita. Karena sepertinya kau bukan hanya cantik jelita namun kau adalah sempurna. Ini hanya terka-ku saja. Karena aku tidak mengenalmu sebegitu jauhnya, maka boleh sajakan aku menilaimu hanya dengan sebatas mata? Tidak tidak, kau tidak akan terlihat buruk. Aku janji.
Hai perempuan dalam pikiran...
Siapakah nama ayah ibumu? Mengapa bisa mereka menjadikan seorang putri kayangan di bumi ini? Yang kutahu putri kayangan hanyalah sebuah dongeng anak-anak tapi mengapa saat melihatmu putri kayangan itu terasa begitu dekat? Apakah kamu memang salah satu keturunannya?
Hai perempuan yang kuharap selalu kutemui...
Kau tahu tidak, dahulu aku begitu menyesal bersekolah disini. Namun disaat hari dimana aku melihatmu hanya dengan sekilas mata saja, mulai detik itu hingga saat ini aku kontan mengubah keburukan tentang tempat belajar yang sedang kutempati ini. Aku mengubahnya. Aku tidak akan pernah menyesal karena di sekolah lain tak bisa lagi kutemukan perempuan secantik dirimu. Jikalau ada yang pasti kutahu adalah bahwa itu bukanlah dirimu. Iya, memang kamulah yang kuinginkan.
Hai perempuan yang setiap malam terngiang...
Sudikah kamu berkenalan denganku? Lelaki kumuh nan kusut yang hanya mampu melihatmu dari mata. Bukan dengan senyuman, apalagi percakapan. Aku memang tidak pernah percaya diri dengan diriku sendiri karena aku selalu saja terpaku pada satu kaca. Kaca yang sepertinya memang terdoktrin menjadi bagian anganku. Kupikir, teman sekelasku saja hanya mau berteman karena ada tugas rumah yang harus dikerjakan. Apalagi kamu? Haha, mungkin mendekat saja kamu sudah merasa bau dan pergi begitu saja. Aku memang selalu saja merasa bahwa aku adalah sampah sekolah.