Sejak pertama menemukanmu dalam bola mata ini, aku
tak pernah bisa berhenti untuk tetap menatapmu. Mataku tak sanggup beralih
bahkan kepada sekumtum mawar merah merekah di dekatmu. Kamu terlihat lebih
indah dari padanya.
Hai
perempuan yang indah menawan...
Bisakah kau sebut namamu? Agar aku tak lagi
menyebutmu dengan julukan cantik jelita.
Karena sepertinya kau bukan hanya cantik jelita namun kau adalah sempurna. Ini
hanya terka-ku saja. Karena aku tidak mengenalmu sebegitu jauhnya, maka boleh
sajakan aku menilaimu hanya dengan sebatas mata? Tidak tidak, kau tidak akan
terlihat buruk. Aku janji.
Hai
perempuan dalam pikiran...
Siapakah nama ayah ibumu? Mengapa bisa mereka
menjadikan seorang putri kayangan di bumi ini? Yang kutahu putri kayangan
hanyalah sebuah dongeng anak-anak tapi mengapa saat melihatmu putri kayangan
itu terasa begitu dekat? Apakah kamu memang salah satu keturunannya?
Hai
perempuan yang kuharap selalu kutemui...
Kau tahu tidak, dahulu aku begitu menyesal bersekolah
disini. Namun disaat hari dimana aku melihatmu hanya dengan sekilas mata saja,
mulai detik itu hingga saat ini aku kontan mengubah keburukan tentang tempat
belajar yang sedang kutempati ini. Aku mengubahnya. Aku tidak akan pernah
menyesal karena di sekolah lain tak bisa lagi kutemukan perempuan secantik
dirimu. Jikalau ada yang pasti kutahu adalah bahwa itu bukanlah dirimu. Iya,
memang kamulah yang kuinginkan.
Hai
perempuan yang setiap malam terngiang...
Sudikah kamu berkenalan denganku? Lelaki kumuh nan
kusut yang hanya mampu melihatmu dari mata. Bukan dengan senyuman, apalagi
percakapan. Aku memang tidak pernah percaya diri dengan diriku sendiri karena
aku selalu saja terpaku pada satu kaca. Kaca yang sepertinya memang terdoktrin
menjadi bagian anganku. Kupikir, teman sekelasku saja hanya mau berteman karena
ada tugas rumah yang harus dikerjakan. Apalagi kamu? Haha, mungkin mendekat
saja kamu sudah merasa bau dan pergi begitu saja. Aku memang selalu saja merasa
bahwa aku adalah sampah sekolah.