Sabtu, 14 Oktober 2017

SEMBURAT HATI #1: CINTA DAN ANGAN



Sebuah pengharapanku padamu.
Semoga aku tetap kuat menanti, meskipun aku mengerti ada kisah lain yang lebih ingin kau ukir. Ada tatapan lain yang lebih ingin kau tatap. Ada tangan lain yang lebih ingin kau usap. Ada seseorang lain yang lebih ingin kau beri sebuah kejutan ketimbang aku. Haha. Padahal senyumanmu dalam sebuah video berdurasi lima detik disertai catatan suara selama dua detik akan memecah seluruh gema hampa yang sampai saat ini mengelus kelabuku.
Apakah aku harus berubah menjadi seseorang yang meminta barang istimewa agar kau mau melihatku dengan kedua bola matamu? Dengan sinar bak bara api diterik matahari? Iya? Perlukah aku melakukan itu? Kurasa tidak. Karena aku masih memegang kata-katamu saat kau mengatakan padaku bahwa kau lebih suka dengan seseorang yang apa adanya dan sederhana. Aku tetap tersenyum mendengarnya meskipun detik selanjutnya kau mengatakan satu nama yang tak pernah ingin kudengarkan. Karena yang kuinginkan terucap dalam tuturmu adalah namaku.
Kita, ditakdirkan satu angkatan, satu organisasi, berbeda esktra namun kedua ekstra kita bertautan satu sama lain. Kita diciptakan satu guru, satu kota perantauan meskipun sebenarnya yang terlihat merantau adalah aku, bukan kau. Kita pernah tertawa bersama, berdiskusi bersama, membeli barang bersama meski barang yang kubeli sebenarnya untukmu dan barang yang kau beli untuknya. Kuurungkan niatku pada akhirnya. Karena aku tidak ingin kau tahu betapa ada perasaan besar yang begitu menyesakkan. Sayang sejuta sayang, semua kebersamaan itu tidak akan pernah menunjukkan bahwa kita akan bersatu. Tidak akan pernah.
Aku bak terhunus pedang kuningan dibagian ulu. Sebegitu menyakitkan kah? Sebenarnya tidak, hanya saja harapanku yang telah mengukir berbagai model bayangan bersamamu membuat diriku ego untuk melupakanmu secara perlahan dan membiarkan aku menangis dalam bara siksa.
Sesekali aku menatapmu dengan senyuman dan kau membalasnya, singkat. Tidak, kau tidak sedang membenciku. Hanya saja sampai sekarang kau tak mampu mengetahui apa kisah dibalik kembangan senyumku padamu. Mungkin saja hanya berupa sapaan kan? Iya, sangat mungkin.
Pernah suatu ketika aku membuatkanmu sekotak bolu coklat dengan harga batangan coklat yang setara dengan uang sakuku selama lima hari. Dan itu khusus untukmu. Tapi apa yang kau lakukan dengan bolu itu? Kau suapi dirinya dan aku di depanmu, dengan mengulum senyum semanis-manisnya - sewajarnya. Menahan getir pahit yang semakin lama semakin menyeruak tak kuasa. Berusaha mendesak butir air tanpa dosa jatuh dari mataku. Syukurlah, aku memiliki topeng yang begitu tebal. Kau bahkan tak menyadariku yang sedang berlinang di depanmu. Menyadari? Bahkan peduli saja tidak. Sama sekali tidak.
Kurasa setelah hari itu, aku merasa jijik memakan bahkan melihat bolu coklat. Entah itu buatanku, orang lain, juga mama. Ini hanya akan menyimpan deret luka.
Aku masih tetap menjadi remaja ceria meskipun kelam dalam cinta adalah sahabatku. Bahkan dialah yang menyambut dan menunggu, berurai air mata. Terlihat suram memang jika diceritakan namun di hari ini adalah hari terakhirku memendamnya. Aku sudah tidak tahan berdiri sendiri. Aku ingin kau tahu bahwa ada aku di sini. Selalu melihatmu di depan pintu. Selalu menanti jika kau tak kunjung datang. Dan aku masih menjadi sahabat karibmu.
Previous Post
Next Post

post written by:

Hai, pembaca! Saya Amal, pemilik blog ini. Blog ini tercipta tidak lain tidak bukan untuk belajar dan berproses dalam hal menulis. Semoga apa yang saya tulis bermanfaat. Terimakasih.

0 komentar: