Semoga aku tetap kuat menanti,
meskipun aku mengerti ada kisah lain yang lebih ingin kau ukir. Ada tatapan
lain yang lebih ingin kau tatap. Ada tangan lain yang lebih ingin kau usap. Ada
seseorang lain yang lebih ingin kau beri sebuah kejutan ketimbang aku. Haha. Padahal senyumanmu dalam sebuah video berdurasi lima detik disertai catatan suara selama
dua detik akan
memecah seluruh gema hampa yang sampai saat ini mengelus kelabuku.
Apakah aku harus berubah menjadi
seseorang yang meminta barang istimewa agar kau mau melihatku dengan kedua bola
matamu? Dengan sinar bak bara api diterik matahari? Iya? Perlukah aku melakukan
itu? Kurasa tidak. Karena aku masih memegang kata-katamu saat kau mengatakan
padaku bahwa kau lebih suka dengan seseorang yang apa adanya dan sederhana. Aku
tetap tersenyum mendengarnya meskipun detik selanjutnya kau mengatakan satu
nama yang tak pernah ingin kudengarkan. Karena yang kuinginkan terucap dalam
tuturmu adalah namaku.
Kita, ditakdirkan satu angkatan,
satu organisasi, berbeda esktra namun kedua ekstra kita bertautan satu sama
lain. Kita diciptakan satu guru, satu kota perantauan meskipun sebenarnya yang
terlihat merantau adalah aku, bukan kau. Kita pernah tertawa bersama,
berdiskusi bersama, membeli barang bersama meski barang yang kubeli sebenarnya
untukmu dan barang yang kau beli untuknya. Kuurungkan niatku pada akhirnya.
Karena aku tidak ingin kau tahu betapa ada perasaan besar yang begitu
menyesakkan. Sayang sejuta sayang, semua kebersamaan itu tidak akan pernah
menunjukkan bahwa kita akan bersatu. Tidak akan pernah.
Aku bak terhunus pedang kuningan
dibagian ulu. Sebegitu menyakitkan kah? Sebenarnya tidak, hanya saja harapanku
yang telah mengukir berbagai model bayangan bersamamu membuat diriku ego untuk
melupakanmu secara perlahan dan membiarkan aku menangis dalam bara siksa.
Sesekali aku menatapmu dengan
senyuman dan kau membalasnya, singkat. Tidak, kau tidak sedang membenciku.
Hanya saja sampai sekarang kau tak mampu mengetahui apa kisah dibalik kembangan
senyumku padamu. Mungkin saja hanya berupa sapaan kan? Iya, sangat mungkin.
Pernah suatu ketika aku
membuatkanmu sekotak bolu coklat dengan harga batangan coklat yang setara
dengan uang sakuku selama lima hari. Dan itu khusus untukmu. Tapi apa yang kau
lakukan dengan bolu itu? Kau suapi dirinya dan aku di depanmu, dengan mengulum
senyum semanis-manisnya - sewajarnya. Menahan getir pahit yang semakin lama
semakin menyeruak tak kuasa. Berusaha mendesak butir air tanpa dosa jatuh dari
mataku. Syukurlah, aku memiliki topeng yang begitu tebal. Kau bahkan tak
menyadariku yang sedang berlinang di depanmu. Menyadari? Bahkan peduli saja
tidak. Sama sekali tidak.
Kurasa setelah hari itu, aku merasa
jijik memakan bahkan melihat bolu coklat. Entah itu buatanku, orang lain, juga
mama. Ini hanya akan menyimpan deret luka.
Aku masih tetap menjadi remaja
ceria meskipun kelam dalam cinta adalah sahabatku. Bahkan dialah yang menyambut
dan menunggu, berurai air mata. Terlihat suram memang jika diceritakan namun di
hari ini adalah hari terakhirku memendamnya. Aku sudah tidak tahan berdiri
sendiri. Aku ingin kau tahu bahwa ada aku di sini. Selalu melihatmu di depan
pintu. Selalu menanti jika kau tak kunjung datang. Dan aku masih menjadi
sahabat karibmu.

0 komentar: