Apa yang kita harapkan
dari sebuah kedamaian jika kaidah yang kita gunakan saja hanya pada
bagian-bagian yang menguntungkan diri sendiri? Dimana letak kedamaian itu jika
jalan yang kita tempuhpun berbeda? Kau dengan tangan, aku dengan kaki. Kau
dengan mulut, aku dengan telinga. Kau dari sisi kiri, aku dari kanan. Dan yang
menggelikan adalah ketika kita menganggap apa yang kita lakukan adalah sebuah
keadilan. Keadilan untuk kebaikan dalam sebuah kebersamaan. Keadilan dari mana? Bahkan nurani kita sedang
tertawa, menertawakan mulut omong kosong milik kita, hanya saja kita tidak
menyadarinya.
Kita angkuh demi kebaikan sebuah golongan? Golongan apa yang
kita maksud? Jika saja di setiap golongan itu tumbuh keangkuhan seperti yang kita miliki
dan dunia ini ada beribu macam golongan berbeda. Lantas, terhimpit dimana
sebenarnya kedamaian itu? Patut ditertawakan. Bahkan bukan hanya angkuh
melainkan juga egois. Termasuk meng-egoisi nurani kita sendiri.
“Pikirkan dengan jalan damai!!!” Kita saling menggertakkan
kalimat itu. Tapi yang ada dalam otak kita adalah jalan damai menurut kita,
bukan pada kaidah sebenarnya. Lagi-lagi omong kosong. Mungkin jika kita
bisa melihat lakon ini, kita akan tahu bahwa kita dalam selimut kelicikan
dibawah naungan mengangkat kejayaaan satu golongan dengan menjatukan golongan
lainnya. Hingga kita merasa ada pada ras tertinggi dan menguasai juga
mendalangi. Iya kan?
Lembar-lembar yang kita ajukan banding dalam jalur hukum,
terselip kalimat menyesatkan, mengacaukan sejumlah fakta hanya karena terselip
uang dibalik kalimat itu. Celaka.
Berhenti! Jangan terus berlari untuk saling menuntut.
Guncang diri kalian hingga kotoran dari seluruh badanmu luruh dan kembali
berlarilah menemukan kedamaian. Kekotoranmu hanya akan membutakan sebuah
kedamaian yang sedang kau cari. Kedamaian yang hakiki. Bukan kedamaian dari
sisi matamu.

0 komentar: