Untuk
pengharapan yang hanya nyata dalam mimpi.
Ingin
sekali aku berlama-lama terpejam, tertahan dalam mimpi yang tak pernah
membuatku menangis dalam beku. Wajahmu yang indah nan cerah tak pernah kau sembunyikan
hingga sesudut senyummupun aku mampu menghafalnya. Aku mampu bergelayut manja
dalam dekapanmu. Kau, yang selalu membautku ingin berlama-lama.
Namun
lagi-lagi aku harus didobrakkan dengan kenyataan yang harus kujalani demi
mengejar sebuah mimpi. Bukan mimpi permalam. Namun mimpi yang lain yang lebih
realistis daripada itu. Mimpi yang lebih mudah kutorehkan daripada sajian mimpi
pertidur.
Apakah
sekhayal itu aku mendapatkanmu? Sepertinya tidak jika aku tidak memiliki cermin
seukuran tubuhku. Ketika menyebut namamu saja akan ada satu dua orang yang
tertawa. Ingat, aku masih menyebut namamu, bukan sedang menceritakan mimpi-mimpiku
bersamamu. Kata orang, kau itu indah, istimewa, tanpa tandingan. Dan aku
mengatakan bahwa kau adalah sempurna
Sempurna?
Ketika
aku berbicara mengenai sempurna, hal yang paling melekat dalam ingatanku adalah
cinta. Iya, aku lebih sering mengaitkan antara cinta dengan kata sempurna.
Cinta itu adalah kesempurnaan atas semua insan. Ini menurutku. Kalian boleh
saja berimajinansi mengenai definisi kalian masing-masing.
Bagiku
kau adalah sempurna namun bukan kesempurnaan. Karena definisi lain tentang
kesempurnaan bagiku adalah saat aku mendapatkanmu tanpa harus berlari sendiri
seperti mengejar layang-layang yang terputus. Ya memang, yang ada pada saat ini
adalah aku yang mengejarmu tanpa kau tahu dan kau pedulikan. Kamu pun tak
pernah menyadari bahwa ada aku yang selalu kewalahan menangkis peluh untuk
pantah menyerah mendapatkanmu. Meskipun di akhir senja aku akan kembali
tergelak oleh kenyataan bahwa sudah selama ini aku berlari tanpa hasil dan aku
masih saja bertahan.
Sesakit
itu. Semenyedihkan itu.
Orang
bilang, apapun yang membuatmu terluka tinggalkan. Ingin sekali aku melakukannya
tapi hati ini selalu saja menolak dengan alasan klasik bahwa aku sudah berlari selama ini. Haha, meskipun selama
ini bahkan aku sama sekali belum mendapatkan hasil. Setitikpun belum.
Harus
berapa lama lagi aku begini? Menyiksa diri sendiri hanya karena cinta dan
mengejar kesempurnaan?
Tolong
jelaskan padaku, apakah Tuhan memang menakdirkanku untuk berlari selama ini dan
akhir nanti – entah kapan – aku akan mendapatkan hadiah yang begitu indah? Atau
aku memang sedang salah jalan sehingga Tuhan membiarkanku terluka dan Tuhan
sedang memberi pelajaran sesakit ini?
Haha,
inikah yang disebut jebakan jatuh cinta dengan dalih mendapat kesempurnaan?
Sebodoh itu!

0 komentar: