Kamis, 19 Oktober 2017

SEMBURAT HATI #2: MENGEJAR HARAPAN



Untuk pengharapan yang hanya nyata dalam mimpi.
Ingin sekali aku berlama-lama terpejam, tertahan dalam mimpi yang tak pernah membuatku menangis dalam beku. Wajahmu yang indah nan cerah tak pernah kau sembunyikan hingga sesudut senyummupun aku mampu menghafalnya. Aku mampu bergelayut manja dalam dekapanmu. Kau, yang selalu membautku ingin berlama-lama.
Namun lagi-lagi aku harus didobrakkan dengan kenyataan yang harus kujalani demi mengejar sebuah mimpi. Bukan mimpi permalam. Namun mimpi yang lain yang lebih realistis daripada itu. Mimpi yang lebih mudah kutorehkan daripada sajian mimpi pertidur.
Apakah sekhayal itu aku mendapatkanmu? Sepertinya tidak jika aku tidak memiliki cermin seukuran tubuhku. Ketika menyebut namamu saja akan ada satu dua orang yang tertawa. Ingat, aku masih menyebut namamu, bukan sedang menceritakan mimpi-mimpiku bersamamu. Kata orang, kau itu indah, istimewa, tanpa tandingan. Dan aku mengatakan bahwa kau adalah sempurna
Sempurna?
Ketika aku berbicara mengenai sempurna, hal yang paling melekat dalam ingatanku adalah cinta. Iya, aku lebih sering mengaitkan antara cinta dengan kata sempurna. Cinta itu adalah kesempurnaan atas semua insan. Ini menurutku. Kalian boleh saja berimajinansi mengenai definisi kalian masing-masing.
Bagiku kau adalah sempurna namun bukan kesempurnaan. Karena definisi lain tentang kesempurnaan bagiku adalah saat aku mendapatkanmu tanpa harus berlari sendiri seperti mengejar layang-layang yang terputus. Ya memang, yang ada pada saat ini adalah aku yang mengejarmu tanpa kau tahu dan kau pedulikan. Kamu pun tak pernah menyadari bahwa ada aku yang selalu kewalahan menangkis peluh untuk pantah menyerah mendapatkanmu. Meskipun di akhir senja aku akan kembali tergelak oleh kenyataan bahwa sudah selama ini aku berlari tanpa hasil dan aku masih saja bertahan.
Sesakit itu. Semenyedihkan itu.
Orang bilang, apapun yang membuatmu terluka tinggalkan. Ingin sekali aku melakukannya tapi hati ini selalu saja menolak dengan alasan klasik bahwa aku sudah berlari selama ini. Haha, meskipun selama ini bahkan aku sama sekali belum mendapatkan hasil. Setitikpun belum.
Harus berapa lama lagi aku begini? Menyiksa diri sendiri hanya karena cinta dan mengejar kesempurnaan?
Tolong jelaskan padaku, apakah Tuhan memang menakdirkanku untuk berlari selama ini dan akhir nanti – entah kapan – aku akan mendapatkan hadiah yang begitu indah? Atau aku memang sedang salah jalan sehingga Tuhan membiarkanku terluka dan Tuhan sedang memberi pelajaran sesakit ini?
Haha, inikah yang disebut jebakan jatuh cinta dengan dalih mendapat kesempurnaan? Sebodoh itu!

Previous Post
Next Post

post written by:

Hai, pembaca! Saya Amal, pemilik blog ini. Blog ini tercipta tidak lain tidak bukan untuk belajar dan berproses dalam hal menulis. Semoga apa yang saya tulis bermanfaat. Terimakasih.

0 komentar: