Tentang gejolak yang
ada dalam hidupku. Untuk apa sebenarnya? Orang-orang tua bilang berarti aku
telah dewasa; aku telah siap menerima sesuatu yang lebih besar dan lebih luas.
Ibu bilang berarti Allah telah mempercayakan pada diriku segala kemampuan yang
nanti akan aku gunakan untuk mempelajari juga menerima. Allah telah
mengamanahkan kepadaku; percaya bahwa aku sudah bisa membedakan antara
keburukan dan kebaikan.
Tentang gejolak yang ada
dalam hidupku. Aku sedang mempelajari secara
perlahan-lahan bagaimana bentuknya, cara kerjanya, darimana, juga dengan siapa.
Aku ingin mengerti betul sebenarnya, agar aku tidak salah, juga aku bisa
membuat tameng sekuat mungkin. Namun, keinginann Allah berbeda. Allah lebih
tahu aku mampu langsung berpijak dalam prakteknya, mempelajari dengan
menyelaminya disana. Mungkin terlalu lama kata Allah jika aku harus menanyakan
teori akan gejolak ini kesana-kemari. Keburu capek malah tidak jadi berjalanan
nanti, mungkin kata Allah begitu kali ya.
Tentang gejolak yang ada
dalam hidupku. Aku bertemu dengan sosok yang entah dengan
alasan apa aku bisa berdegup sebegini kencangnya. Ketika aku tanyakan kepada
kawanku, katanya aku sudah mulai jatuh cinta. Oh Allah, apakah di mataMu aku
sudah sematang itu hingga kau datangkan ini secara tiba-tiba? Sayangnya dalam
degupan itu aku tidak sempat memikirkan tentang ini. Terlalu jauh saat itu
menurutku jika aku harus memikirkan ini. Karena kenyataan yang ada saat itu aku
hanya mengikuti alur degupan itu saja.
Tentang gejolak yang ada
dalam hidupku. Ternyata tidak sesepele itu alurnya.
Selalu saja aku bertemu dengan sesosok insan yang baik. Entah dari depan sudah
terlihat baik atau harus digali lebih dahulu agar kau tahu siapa dia. Selalu
saja dapat yang begitu. Kukira dari pertama aku bertemu dengannya aku akan
berjodoh dan menikah dengannya. Bagaimana aku tidak mau, dia juga rajin sholat
dan sering mengingatkanku untuk lebih dekat dengan Allah. Aku kira semudah itu
menemukan jodoh. Kukira aku adalah manusia yang beruntung karena telah
menemukan jodohku sejak dini, diusiaku yang entah keberapa pada saat itu yang
jelas aku sudah duduk di bangku sekolah menengah.
Tentang gejolak yang ada
dalam hidupku. Iya, kembalilah pada paragraf diatas
ini yang mengatakan “Selalu
saja aku bertemu dengan sesosok insan yang baik.” Pantengin kata selalu.
Menunjukkan memang aku tak hanya bertemu dengan sosok yang demikian sekali
saja. Iya, aku tak hanya satu kali merasakan degup jantungku. Hei, sudah jatuh
cinta berapa kali? Langsung saja tanyakan jatuhnya karena nyatanya belum ada
yang abadi mendampingiku bukan? Inilah pelajaran Allah.
Tentang gejolak yang ada
dalam hidupku. Bukan, bukan Allah membiarkanku
dibenci olehNya karena mencintai orang banyak selain diriNya. Yang Allah
inginkan dipertemuan pertamaku, di degupan pertamaku Allah ingin sekali aku belajar akan
datangnya, kerjanya, keadaannya, juga patahnya. Tapi aku tak kunjung mengerti
hingga aku hanya mengeluh tanpa berpikir mempelajari. Aku seperti menyalahkan
Allah karena Allah telah mempertemukanku dengannya. Padahal maksud Allah bukan
untuk mematahkanku sebenarnya, tapi pelajarannya yang Allah inginkan. Allah
ingin aku kuat dengan semua ini.
Tentang gejolak yang ada
dalam hidupku. Terlena. Satu kata yang cocok sekali
disandangkan kepadaku. Diberi cinta satu kali sudah sepaket dengan patahnya ternyata
aku tidak kapok. Mungkin telingaku tertutup godaan setan kali ya hingga tak
mendengar seruan Allah yang lain. Hawa nafsuku diotak-atik hingga aku terbalik
kembali. Wah wah, belum dewasa benar aku ternyata [ Ya Allah teguhkan dan
tabahkan hati hamba J]. Aku sibuk memperindah diri untuk dia. Sibuk-sesibuknya
menggamit dunia untuk memelekkan matanya agar ia tahu aku sudah menjadi gadis
remaja yang sedang jatuh cinta. Nyatanya ini memang salahku. Aku begitu
merutuki perilakuku ini. Andai bisa kembali, aku harap akan menjadi gadis kecil
terus-terusan saja agar tak perlu payah dandan dan gengsi ini itu macam ini.
Sayang seribu sayang. Allah, Sang Pemegang Skenario pergerakan bumi beserta
alam semestaNya ini tidak menginginkan alamNya berjalan mundur. Dan yang dapat
kulakukan saat ini hanyalah merapal agar aku diampuni dosanya dan sudilah Allah
memasukkanku dalam surgaNya, nanti.

0 komentar: